Test Ride: Piaggio Zip

Membelah kemacetan lalu lintas, memang lebih enak menggunakan sepeda motor. Tapi, jika Anda menggunakan sepeda motor berukuran besar pasti lebih merepotkan dan menguras tenaga.

Di kota-kota besar seperti Jakarta, sepeda motor compact — bukan hanya mobil compact — menjadi solusi tepat untuk berkelit. Biasanya sepeda motor compact identik dengan kelincahan dan irit bahan bakar.

Dan sejak beberapa tahun terakhir trend sepeda motor compact dengan teknologi CVT atau skuter otomatis (entah kenapa disingkat menjadi skutik, mungkin diambil dari penyingkatan scooter automatic) melanda kota-kota besar.

Skutik lebih praktis dioperasikan. Anda tak perlu melakukan pergantian gear, menekan atau menahan kopling. Anda tinggal putar akselerator dan tarik dua tuas rem di bagian setang.

Piaggio Zip adalah salah satu skutik mungil yang berada di pasaran. Dimensi Zip hanya 1.690 mm x 680 mm (pxl) dan wheelbase 1,215 mm. Dimensi Yamaha Mio sendiri, yang menjadi primadona dan di atas Zip, 1,820 mm x 675 mm dan wheelbase 1.240 mm.

Dengan dimensi mungil, Zip enak diajak meliuk-liuk di kemacetan Jakarta. Bagi wanita pengendara Zip mendapat keuntungan tambahan dari bobotnya yang tidak membebani. Bobot Zip hanya 89 kg (dry weight).

Meski mesinnya hanya berkapasitas 100 cc, bertenaga 5,6 hp dan bertorsi 6,9 Nm, responsivitasnya tak perlu diragukan. Begitu Anda putar akselerator, tubuhnya langsung melesat.

Di jalan Jenderal Sudirman, kami bahkan beberapa terprovokasi mesin dan dimensinya untuk menyalip, menyodok atau mengambil ‘keuntungan’ dari lengahnya para pengemudi lain di tengah antrian/kemacetan.

Setelah menerjang, sekarang, Anda tinggal menarik kedua tuas remnya. Tak ada masalah dengan deselerator skutik buatan Cina ini. Rem depan (kanan) sangat mengigit — terkadang Anda harus berhati-hati karena kuatnya rem. Sedangkan rem belakang (kiri) didesain tidak terlalu menggigit. Sepertinya kita harus terlatih menggunakan kedua rem secara bersamaan.

Itulah sebabnya Honda menciptakan Combination Brake — mengawinkan pengereman depan dan belakang.

Meski kami puas dengan performa mesin dan konsumsi bensin Zip (klaim 50 km/liter), toh, dashboard Zip terkesan sangat sederhana dan ganjil dengan dominasi lingkaran speedometer dan lingkaran logo Zip (yang tidak ada kegunaannya). Indikator bensin hanya berupa lampu kuning sehingga Anda tidak bisa mengetahui berapa jumlah bahan bakar yang ada di dalam tangki, ketika bahan bakar menipis maka lampu indikator bensin akan menyala kuning. Aneh.

DImensi Zip yang compact juga mengakibatkan besarnya jok relatif lebih sempit. Jika Zip dikendarai solo maka Anda tak menemukan masalah dengan jok. Namun ketika Anda berencana memboncengi seorang partner, maka Anda harus mengukur tubuhnya dahulu agar semuanya kebagian jok.

Kami menyukai bagasi di bawah jok (untuk menyimpan helm, jaket atau benda-benda lain), tangki besar (7 liter), dan hook di depan (untuk menggantung barang belanjaan dan lain-lain).

Dengan harga Rp 18,5 juta, Zip boleh dilirik. Ditambah lagi responsivitas mesin, dimensinya yang compact, bagasi berlimpah, menjadi faktor-faktor yang membuat Zip digemari. Lupakan dulu dashboard-nya.

test ride via [dapurpacu.com]

kata kunci pencarian:

  • piaggio zip review
  • review piaggio zip
  • test drive piaggio zip
  • piaggio zip preview
  • piaggio zip riview
  • piaggio zip test review
  • review untuk piaggio zip
Tags: ,

Tentang Penulis

menulis 782 artikel di website ini.

Chief Editor review1st.com, dengan pengalaman di bidang jurnalistik dan industri telekomunikasi sejak 2004 di beberapa media nasional baik koran harian, majalah, tabloid hingga online. Saat ini masih aktif sebagai jurnalis di salah satu media telekomunikasi nasional. Contact person: haripj@review1st.com

Write a Comment

Gravatars are small images that can show your personality. You can get your gravatar for free today!

Copyright © 2012 review 1st. All rights reserved.