Runtuhnya Dominasi Blackberry Sang Penguasa Smartphone
- Wednesday, August 8, 2012, 13:49
- INDUSTRI
Blackberry semakin kelabakan dengan serangan kompetitornya di ranah smartphone. Pengguna Android kian merajalela, iPhone terus memperkuat eksistensinya sementara Windows Phone 7 (WP7) pun mulai menyergap pasar. Alhasil, peminat Blackberry menyurut dan pamornya terus meredup.
Melihat agresifitas vendor Android menggeber produknya belakangan ini, tak bisa dipungkiri jika animo masyarakat terhadap smartphone jenis ini terus melonjak. Data dari beberapa lembaga survei menunjukkan smartphone berbasis Android terus menggoyang dominasi Blackberry dan iPhone.
Blackberry yang sempat menjadi raja smartphone harus mulai rela digusur. Hampir seperti Nokia yang mati-matian memperbaiki pasar yang terus digerogoti, Blackberry pun sekarang terus berupaya mendongkrak kembali popularitasnya.
Sekedar catatan saja, Blackberry merupakan salah satu perangkat yang laris manis penjualannya berkat fitur andalan Blackberry Messenger (BBM). Tak berlebihan rasanya jika pihak Research in Motion (RIM) sebagai produsen Blackberry cukup mengagungkan BBM. Pasalnya, aplikasi tersebut merupakan salah satu tools favorit Blackberry.
Sayang, di sisi device, Blackberry kurang mampu menghadirkan produk yang inovatif. Bahkan, handset terbaru yang dirilis semakin terasa ketinggalan jaman jika dibandingkan dengan produk besutan Samsung (berbasis Android), iPhone hingga Nokia.
Lebih dari itu, fitur eksklusif yang menjadi senjata andalan menjaring konsumen yakni BBM ternyata mulai dibuntuti pesaing. Seperti dikutip dari Berry Review, Mike Kirkup, Director of Developer Relations RIM pernah berucap BBM merupakan salah satu kunci utama kekuatan BlackBerry dalam menggaet pengguna.
Nah, ancaman terhadap eksistensi Blackberry dan BBM-nya muncul justru dari para rival beratnya, Di ajang Worldwide Developer Conference 2011 (WWDC) lalu, Apple memperkenalkan iMessage, layanan chat eksklusif perangkat iOS yang fungsinya mirip dengan BBM.
Samsung pun memperkenalkan aplikasi messenger miliknya bernama ChatOn. Aplikasi ini pun mendukung berbagai platform mulai dari Android, Bada, ponsel Samsung non smartphone hingga OS lain.
Aksi para seteru menghadirkan layanan serupa memang belum mampu meruntuhkan dominasi BBM. Namun, persoalan lain yang muncul adalah meredupnya penjualan handset lantaran animo terhadap smartphone berbasis Android dan iPhone kian melonjak.
Berkurangnya handset yang laku di pasaran otomatis berdampak pada stagnannya pengguna layanan BBM. Lebih jauh, tentu akan sangat mempengaruhi bisnis RIM sebagai vendor penyedia Blackberry dan layanannya.
Bahkan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir, nilai pasar RIM jatuh hingga 77 persen menjadi 6,8 miliar dolar AS. Berbagai problem pun silih berganti menerpa Blackberry mulai dari tertundanya rilis handset Blackberry 10, jebloknya penjualan Playbook hingga
saham yang terus merosot.
Menurut laporan yang dikutip dari lembaga riset Canalys, Blackberry sempat menguasai 53 persen pangsa pasar smartphone 2009. Sayang, di 2011, market share-nya teru digerogoti hingga menyusut sampai menyisakan 13 persen. Ujung-ujungnya, saham RIM pun anjlok 73,77 persen dalam setahun menjadi 16,83 dolar AS per lembar.
Puncak dari meredupnya pamor Blackberry adalah pengunduran diri dua CEO RIM dari jabatan, Mike Lazaridis dan Jim Balsillie. Sebelumnya, kinerja duet maut ini dianggap terus merosot. Keduanya sampai dinobatkan dalam daftar CEO terburku di AS oleh New York Times.
Pasca kegagalan tablet Blackberry Playbook di pasar dan tertundanya peluncuran handset Blackberry 10, RIM memang harus berpikir keras untuk kembali mendongkrak popularitasnya. So, akankah mereka berhasil?