Risiko Membeli Hp dengan Garansi ‘Distributor’

#kamisukareview – Maraknya merek baru ponsel cerdas di Indonesia, tentunya membuat kamu bingung untuk memilih dengan cara mendatangi gerai/ritel atau membelinya di toko online (daring).

Hal lain yang tentunya kerap membuat kamu gamang adalah soal garansi ponsel, apakah ingin membeli ponsel dengan garansi resmi atau garansi distributor. Karena umumnya ponsel dengan garansi distributor memiliki banderol yang lebih murah.

Berbicara garansi resmi, jelas, produk itu dijual secara resmi dengan pajak masuk serta jaminan servis pada ritel/ritel khusus yang ditunjuk oleh pemegang merek.

Sementara menyoal garansi distributor, lazimnya para penjaja menyebutnya dengan garansi toko dengan rentang waktu tertentu (rata-rata sebulan sejak kamu melakukan pembelian). Jelas, ponsel dengan garansi ini masih dipertanyakan keabsahannya secara hukum.

Nah, artinya kamu wajib paham terkait risiko membeli ponsel dengan garansi distributor/toko.

Berikut 3 hal yang harus kamu pertimbangkan ketika hendak meminang ponsel dengan garansi distributor;

Garansi yang merepotkan

Tentunya berbeda dengan ponsel bergaransi resmi yang memiliki tempat klaim yang tersebar diseluruh jaringan resmi.

Umumnya, jika kamu membeli ponsel dengan garansi resmi akan mendapatkan masa garansi yang cukup panjang, bahkan hingga 2 tahun. Termasuk penggantian unit, update software (jika bermasalah), atau penggantian suku cadang (sparepart). Tergantung kasus kerusakan yang tercatat dalam kartu garansi.

Sementara jika kamu membeli ponsel dengan garansi toko, maka jika bermasalah, maka ponsel kamu hanya akan dapat ditangani di tempat kamu membeli ponsel tersebut. Itu pun jika masa garansi masih berlaku.

Jika masa berlaku habis, harapan kamu hanya dapat mendatangi toko yang melayani jasa perbaikan ponsel. Itu pun bukan toko resmi seperti halnya service centre.

Sistem perangkat lunak 

Umumnya ponsel dengan garansi toko memiliki spesifikasi yang sedikit berbeda dengan ponsel yang dijual dengan garansi resmi. Ponsel yang umum disebut ponsel black market (BM) ini merupakan produk impor yang tidak terdaftar secara resmi.

Memang, bagi orang awam akan sedikit sulit membedakan ponsel antara yang bergaransi resmi atau distributor. Namun mudahnya, kamu bisa cek melalui sistem perangkat lunaknya (software) terkait ketersediaan bahasa. Jika tidak terdapat bahasa Indonesia, maka kemungkinan besar ponsel itu adalah ponsel BM.

Pihak distributor sebelumnya pasti telah melakukan modifikasi sistem software ponsel agar ponsel itu bisa aktif dengan jaringan operator di Indonesia.

Perangkat keras 

Hal lain yang menjadi kendala ketika melakukan service ponsel BM adalah ketersediaan suku cadang (sparepart). Umumnya penyedia jasa perbaikan ponsel (bukan ritel resmi), melakukan kanibalisasi pada sparepart ponsel BM yang diservis. Tak ada jaminan, apakah akan awet atau tidak, karena umumnya pihak jasa perbaikan ponsel itu hanya memberikan garansi servis selama seminggu.

Nah, jika kamu mendapatkan iming-iming ponsel berbanderol murah yang ditawarkan di sosial media, maka cek keabsahannya. Umumnya pada ponsel BM akan tercetak logo operator seluler dari negara lain, semisal T-Mobile, Verizon, dll.

Nah gimana, sudah paham kan risikonya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.